FILSAFAT ILMU
Oleh:
Naili Fitri
A. Pengertian Ilmu dan Agama
1.
Pengertian Ilmu
Istilah ilmu atau science merupakan satu kata yang sering
diartikan dengan berbagai kata yang sering dirtikan dengan berbagai makna atau
mengandung lebih dari satu arti. Science
dalam arti sebagai natural sience, biasanya dimaksud dalam ungkapan
“sains dan teknologi”. dalam kamus istilah istilah ilmiyah dirumuskan sebagai “
the study of the natural science and the applicatio of the knowledge for
practical purpouse” yang artinya
adalah penelaahan dari ilmu alam dan penerapan dari pengetahuan ini untuk
maksud praktis.[1]
Archin
J. Bann dalam artikelnya yang berjudul “what is science” yang dikutip
oleh Koento Wibisono (1997) megatakan, dari definisi ilmu disebutkan ada 6
komponen ilmu sebagai berikut :
1.) Masalah atau problem ilmiyah (scientific problem)
2.) Sikap ilmiah (Scientific attitude)
3.) Metode ilmiyah ( scientific method)
4.) Aktivitas ilmiyah (scientific activity)
5.) kesimpulan (conclusions)
6.) beberapa pengaruh (effects)
1.) Masalah atau problem ilmiyah (scientific problem)
2.) Sikap ilmiah (Scientific attitude)
3.) Metode ilmiyah ( scientific method)
4.) Aktivitas ilmiyah (scientific activity)
5.) kesimpulan (conclusions)
6.) beberapa pengaruh (effects)
Pendapat The Liang Gie (1987), bahwa ditinjau dari berbagai
definisi ilmu menurut para ahli, ia mengamukakan tiga pengertian ilmu,
diuraikan sebagai berikut :
Pertama, ilmu dalam
pengertian “pengetahuan” atau “produk”, ia merujuk pada pengertian ilmu menurut
etimologi atau asal usul kata, istilah ilmu dari bahasa inggris Science
yang berasal dari perkataan latin Scientia yang diturunkan dari
perkataan sciere mengandung arti mengetahui (to know) dan juga
belajar (to learn). Dengan demikian ilmu sebagai pengetahuan berarti
bahwa ilmu suatu kumpulan sistematis dari pengatahuan (a scientific body of
knowledge) yang sesungguhnya hanyalah produk.
Kedua, Ilmu dalam
pengertian “aktivitas” atau “proses”, ini berarti ilmu sebagai aktivitas
sesungguhnya merupakan sebuah proses yang bersifat manusiawi yang mengarah pada
tujuan tertentu, karena para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiyah mempunyai
tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ilmu itu beragam sesuai dengan yang
diharapkan oleh para ilmuwan. Dalam garis besarnya dapat dikatakan bahwa tujuan
ilmu sebagaimana ditentukan oleh para ilmuwan
merentang diantara dua kutub yaitu : “penerapan” dan “penjelasan”.
Tujuan “penerapan” dari ilmu berdasarkan pada pandangan filsuf
inggris, Frrancis Bacon yang mengatakan bahwa “tujuan yang sah dan senyatanya
dari ilmu berupa sumbangan terhadap kehidupan manusia dengan ciptaan-ciptaan
dan kekayaan baru”. Dalam tujuan ilmu sebagai “penerapan”, ilmu mempunyai
tujuan praktis yaitu bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia (human being).
Tujuan Ilmu berupa “penjelasan” dikemukakan oleh filsuf bernama
Stephen Toulmin (1961) dikatakan bahwa “tujuan pokok ilmu adalah bertalian
dengan pencapaian pemahaman, suatu keinginan untuk membuat peristiwa alam tidak
hanya dapat diramalkan tetapi juga dapat dimengerti dan dipahami”. dalam
konteks ini tujuan ilmu lebih bernuanasa teoritis yakni berupa penjelasan
ilmiyah.
Ketiga, “Ilmu dalam
pengertian sebagai Metode”, mengandung prosedur yani suatu rangkaian cara yang
mewujudkan pola tetap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah disebut “metode
penyelidikan” (method of inquiry) atau dinamakan juga “metode ilmiah” (scien-tific
method).
Metode ilmiah mengandung unsur-unsur dan langkah-lngkah sebagai
berikut: unsur-unsur yang mencakup pengamatan, percobaan, pelukisan,
penggolongan, pengukuran, perumusan, penjelasan, peramalan, penilaian,
pengendalian, perbandingan, deduksi, indukdsi. adalapun langkah-langkahnya
mencakup: 1.) penentuan masalah, 2.) perumusan patokan duga, 3.) pengumpulan
bahan (data), 4.) penurunan kesimpulan, 5. pengujian hasil.
pengertian ilmu kedalam tiga dimensi yaitu (1) sebagai pengetahuan
atau produk, (2) sebagai aktivitas atau proses, (3)sebagai metode adalah
merupakan “dimensi Trikotomi” yang menunjukkan nahwa ketiga pengertian ilmu itu
saling berkaitan. The Liang Gie menggambarkan Trikotomi ilmu merupakan satu
kesatuan yang berinteraksi dalam bentuk segitiga,
|
ILMU
|
metode pengetahuan
Selain tiga pengertian atau “trikotomi ilmu”, The Liang Gie dalam
bukunya yang berjudul “Konsepsi Tentang Ilmu” (1984), memperluas pengertian
ilmu dari dimensi cabang ilmu, dimensi falsafati dan dimensi logis ilmu serta
dimensi realitas. Adapun uraiannya sebagai berikut :
(1)
pengertian
Ilmu menurut dimensi cabang ilmu yang bersangkutan, antara lain :
a. Ilmu ekonomi
b. Linguistik
c. Matematik
d. Ilmu politik
e. Psikologi
f. Sosiologi
a. Ilmu ekonomi
b. Linguistik
c. Matematik
d. Ilmu politik
e. Psikologi
f. Sosiologi
(2)
pengertian
ilmu dari dimensi falsafati dan dimensi logis ilmu, antara lain :
a. Dimensi Falsafati, ilmu dipandang sebagai, “pandangan dunia” atau “nilai manusiawi”
b. Dimensi logis ilmu penekanannya pada proposisi-proposisi atau pendekatan formal, memandang ilmu sebagai “sistem logika induktif yang sistematis”. Dirujuk pandangan Eistein dalam bukunya yang berjudul “the Meaning of Reality”, Ia menulis (tujuan segala ilmu, apakah ilmu alam atau psikologi, adalah mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman kita dan menjadikannya suatu sistem logis).
a. Dimensi Falsafati, ilmu dipandang sebagai, “pandangan dunia” atau “nilai manusiawi”
b. Dimensi logis ilmu penekanannya pada proposisi-proposisi atau pendekatan formal, memandang ilmu sebagai “sistem logika induktif yang sistematis”. Dirujuk pandangan Eistein dalam bukunya yang berjudul “the Meaning of Reality”, Ia menulis (tujuan segala ilmu, apakah ilmu alam atau psikologi, adalah mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman kita dan menjadikannya suatu sistem logis).
(3)
pengertian Ilmu dari dimensi “realitas”
didunia diantara dimensi yang menonjol adalah :
a.) dimensi budaya, memandang ilmu sebagai kekuatan budaya, proses budaya dan model kebudayaan.
b.) dimensi sejarah, memandang ilmu sebagai kekuatan sejarah yang sangat penting dalam membangun eksistensi sosial ke arh yang baru.
c.) dimensi humanistik, memandang ilmu sebagai seluruh penghayatan manusia yang menjadi faktor pembentuk kepribadian manusia ilmiyah.
d.) dimensi reaksi, memandang manusia sebagai suatu “permainan”.
e.) dimensi sistem memandang “ilmu sebagai kebulatan sistem” yang meliputi:
a.) dimensi budaya, memandang ilmu sebagai kekuatan budaya, proses budaya dan model kebudayaan.
b.) dimensi sejarah, memandang ilmu sebagai kekuatan sejarah yang sangat penting dalam membangun eksistensi sosial ke arh yang baru.
c.) dimensi humanistik, memandang ilmu sebagai seluruh penghayatan manusia yang menjadi faktor pembentuk kepribadian manusia ilmiyah.
d.) dimensi reaksi, memandang manusia sebagai suatu “permainan”.
e.) dimensi sistem memandang “ilmu sebagai kebulatan sistem” yang meliputi:
a.
suatu
sistem perilaku sehingga manusia memperoleh penguasaan atas lingkungannya
b.
suatu
sistem penjelasan dan
c.
suatu
sistem kepercayaan yang mempunyai landasan kuat.[2]
1.
Pengertian Agama
Kata agama disini bukan dalam pengertian yang luas, seperti yang
dipahami oleh sebagian pemikiran Eropa yang menggunakan istilah agama dalam
pengertian “segala bentuk kepercayaan manusia, termasuk yang bersifat khurafat
(tahayyul) dan banyak berkembang sejak zaman kuno dalam masyarakat primitif dan
masyarakat berdab”. namun pengertin agama disini dibatai hanya pada agama-agama
samawi yang diterima melalui wahyu yang turun dari langit dan dibawa
oleh para rasul Allah.
Jika kita hendak mencari definisi agama yang sesuai dengan batasan
diatas, dalam salah satu kamus bahasa arab disebutkan : “Agama adalah satu
bentuk ketetapan ilahi yang mengarahkan mereka yang berakal dengan pilihan
mereka sendiri terhadap ketetapan ilahi tersebut kepada kebaikan hidup dunia
dan kebahagiaan hidup di akhirat”.
Berdasarkan definisi tersebut ada beberapa kriteria yang kita
dapati dalam senuah agama, yaitu :
a.
Agama
adalah sebuah sistem yang datang dari langit (tuhan)
b.
Tujuan
agama adalah mengarahkan dan membimbing akal manusia
c.
Dasar
beragama adalah kebebasan pilihan
d.
Agama
wahyu membawa kebaikan hidup didunia dan akhirat.
Pendefinisian agama tersebut tidak sempurna tanpa melihat
pokok-pokok akidah keagamaan yang benar, yang dapat dirangkum sebagai berikut :
a.
Kepercayaan
terhadap satu tuhan yang Maha Kuasa dan Bijaksana, terbebas dari kemiripan
dengan makhluk, serta tak berawal ataupun berakhir dalam wujudNya.
b.
Kepercayaan
terhadap wujud alam lain, dimana didalamnya terdapat makhluk-makhluk dari jenis
lain, seperti malaikat jin.
c.
Kepercayaan
terhadap pengutusan para rasul Tuhan untuk mengajarkan manusia bagaimana cara
menjalani hidup.
d.
Kepercayaan
terhadap adanya kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini, dimana kita akan
dimintai perhitungan dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan kita. Jika
baik dibalas baik, jika buruk dibalas buruk.
keempat dasar diatas merupakan dasar dari semua agama samawi.[3]
2.
Struktur Ilmu
Didalam bukunya yang berjudul “Ilmu Dalam Perspektif Sebuah
Kumpulan Tentang Hakekat Ilmu”, Jujun S Suriasmantri memberikan arti
“strukttur ilmu” merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen
yang berhubungan satu sama lain. komponen-komponen tersebut diantaranya:
1.
Perumusan
masalah, cara yang bsa dilakukan dalam menemukan dan merumuskan maslah adalah
melewati persepsi kita dalam menghadapi kesulitan.
2.
Pengamatan
dan deskripsi, barkaitan dengan klasifikasi, penamaan dan penataan sifat-sifat
tertentu dari objek riset.
3.
Penjelasan,
intinya berupa jawaban atas pertanyaan penelitian (question research).
Penjelasan tersebut bisa berupa :
a.
penjelasan
deduktif, menjawab pertanyaan dengan
malakukan abstraksi dari karakteristik tertentu dan secara jelas merumuskan
hubungan antara karakteristik-karakteristik tersebut.
b.
penjelasan
probabilistik yakni
penjelasan dalam ilmu berupa jawaban yang tidak dijawab secara pasti, tetapi
dapat dijawab dengan kata-kata seperti: “mungkin”, “mungkin pasti” atau dalam
batas 50%.
c.
penjelasan
genetis, yakni suatu penjelasan dengan
menjawab pertanyaan atas apa yang telah terjadi sebelumnya.
d.
penjelasan
fungsional, yakni penjelasan dengan jawaban
lewat jalanmenyelidiki tempat dari obyek yang sedang diteliti dalam keseluruhan
sistem dimana objek itu berada.
4.
Ramalan
dan kontrol, terkait dengan keragaman ilmu menyebabkan berbagai cara dalam
mengemukakan ramalan dan kontrol dalam menentukan validitas hipotesis yang
diajukan.
Dengan versi lain The Liang Gei (1984) mengidentifikasi “struktur
ilmu” yang merupakan keterkaitan antar komponen mencakup :
1.
Obyek
yang sebenarnya yang meliputi :
a.
obyek
material
b.
obyek
formal
2.
Bentuk
pertanyaan yang mencakup :
a.
deskripsi
b.
preskripsi
c.
rekonstruksi
historis
3.
Ragam
proposisi, terjadi pada cabang-cabang ilmu yang lebih “dewasa” baik obyek forml
maupun metode ilmiyahnya, terdapat tiga proposisi yaitu
a.
asas
ilmiyah
b.
kaidah
ilmiyah atau hukum ilmiyah
c.
teori
ilmiyah
4.
Ciri
pokok ilmu, mencakup enam ciri esensial, yaitu :
a.
sistematis
pada pengetahuan yang bersangkutan.
b.
keumuman
menunjuk pada kualitas pengetahuan ilmiyah untuk merangkum fenomena dengan
konsep-konsep umum dan membahas obyek kajiannya.
c.
rasionalitas
d.
obyektivitas
e.
verifibilitas
yaitu pengetahuan ilmiyah harus dapat diuji ulang kebenarannya.
f.
komunitas,
bahwa dalam perkembangan litratur mengungkapkan pengetahuan ilmiyah itu menjadi
milik publik atau masyarakat umum.
5.
sistematika
ilmu yang diuraikan dalam bentuk penggolongan atau kualfikasi ilmu.[4]
Struktur
Ilmu (Pengetahuan Ilmiyah)
|
a.
|
Objek
sebenarnya
|
1.
objek
material
|
d.
ide abstrak
e.
benda fisik
f.
jasad hidup
g.
gejala rohani
h.
peristiwa
sosial
i.
proses tanda
|
|
2.
objek formal
|
j.
pusat
perhatian
|
||
|
b.
|
Bentuk
pernyataan
|
1.
deskripsi
2.
preskripsi
3.
eksposisi
pola
4.
rekonstruksi
historis
|
|
|
c.
|
Ragam
proposisi
|
1.
asas ilmiyah
2.
kaidah ilmiah
3.
teori ilmiah
|
|
|
d.
|
Ciri
pokok ilmu
|
1.
sistematis
2.
keumuman
3.
rasionalitas
4.
obyektivitas
5.
veriviabilitas
6.
komunalitas
|
|
3.
Kualifikasi Ilmu
Beberapa pandangan klasifikasi ilmu berdasarkan kriteria
masing-masing, diuraikan sebagai berikut :
Wilhem Dilthey mengajuakan kualifikasi ilmu berdasarkan objek dan
metodenya membagi menjadi dua kelompok yaitu :
1.
The
sience of world (ilmu-ilmu
alamiah) obyeknya “alam fisik” dan metodenya “erklaren” (menjelaskan)
2.
science
of Geist (ilmu-ilmu kerohanian) obyeknya
manusia, dan metodenya “verstehen” (pengertian).
Wilson Gie, membagi ilmu berdasarkan kelas yang istilahnya saling
berlawanan atau dikotomis, ia membdakan cabang-cabang ilmu :
1.
Ilmu-ilmu
eksakta
2.
Ilmu-ilmu
non-eksakta
Augus Comte, klasifikasinya berdasarkan hirarki, asa ketergantungan
dan ukuran. Ia membai ilmu-ilmu fundamental yaitu :
1.
Matematika
2.
Astronomi
3.
Fisika
4.
Kimia
5.
Biologi
6.
Sosiologi
Peter Kalder juga mendasarkan klasifikasi hirarki (urut jenjang)
ilmu dengan menentukan arah penelitian, ia membagi ilmu sebagai berikut :
1.
Ilmu
murni/ilmu akademis, orientasi penelitiannya untuk mengembangkan ilmu-ilmu
sendiri.
2.
Ilmu
dasar terapan, orientasi penelitiannya dengan suatu kerangka acuan
3.
Ilmu
terapan atau ilmu terprogram, orientasi penelitiannya dengan tujuan praktis
atau manipulatif
4.
teknologi,
merupakan transfer pengetahuan ilmiah terhadap pelaksanaan bidang-bidang yang
bersifat teknis.
The Liang Gie (1987) melakukan klasifikasi atas jenis dan ragam
ilmu. adapun pembagiannya sebagai berikut :
1.
pembagian
ilmu yang dianut secara luas oleh univertas-universitas di Amerika serikat :
a.
Ilmu-ilmu
alam
b.
Ilmu-ilmu
SosialIlmu-ilmu Humaniora
2.
Pembagian
ilmu dalam UU No.22 Tahun 1961 tentang Pendidikan Tinggi dan Ilmu pengetahuan
mencakup :
a.
Ilmu
Agama/kerohanian
b.
Ilmu
kebudayaan
c.
Ilmu
Sosial
d.
Ilmu
Eksakta dan Teknik
kini secara formal Pasal 20 ayat (2) UU No. 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi menetapkan rumpun ilmu, meliputi :
a.
Ilmu
Agama
b.
Ilmu
Budaya
c.
Ilmu-ilmu
Alam
d.
Ilmu-ilmu
sosial
e.
Ilmu
Humaniora
f.
Ilmu
Teknik dan Terapan
Klasifikasi Ilmu berdasarkan ragamnya sama dengan pembagian ilmu
secara dikotomi atau Dwi pembagian, antara lain :
1.
Dwi
pembagian yang terkenal sejak zaman kuno
a.
Ilmu
Teoritis, bertujuan untuk memperoleh atau mengubah pengetahuan.
b.
Ilmu
Praktis, bertujuan untuk mengubah dalam arti memperbaiki keadaan.
2.
Dwi
pembagian yang terkenal
a.
pure
science (Ilmu Murni),dalam aplikasinya
mengusung adagium (ungkapan ilmiah) “science for science” (ilmu
hanya untuk ilmu).
b.
Applaid
science (ilmu terapan), dalam praktik
implementasinya mengusung adagium “science for human being” (ilmu hanya
untuk kemaslahatan ummat manusia).
Dalam karya desertasinya B. Arief Sidharta dia membuat klasifikasi
dengan membagi ilmu menjadi dua kelompok yaitu :
1.
kelompok
ilmu teoritis yang kemudian dibagi menjadi dua sub yaitu : “ilmu formal” dan
“Ilmu Empiris”
2.
Ilmu
praktis, yaitu ilmu yang mempelajari aktivitas penerapan itu sendiri sebagai
obyeknya. Yang termasuk didalam ilmu praktis adalah : Etika, Teologi, Ilmu
Teknik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Manajemen dan Ilmu Komunikasi. Kelompok Ilmu
Praktis dibagi kedalam dua jenis yaitu “Ilmu praktis Nomologids” dan “Ilmu
Praktis Normologis”.[5]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar