Minggu, 29 Oktober 2017

Filsafat Ilmu

FILSAFAT ILMU
Oleh:

Naili Fitri
A. Pengertian Ilmu dan Agama
1.      Pengertian Ilmu
Istilah ilmu atau science merupakan satu kata yang sering diartikan dengan berbagai kata yang sering dirtikan dengan berbagai makna atau mengandung lebih dari satu arti.  Science dalam arti sebagai natural sience, biasanya dimaksud dalam ungkapan “sains dan teknologi”. dalam kamus istilah istilah ilmiyah dirumuskan sebagai “ the study of the natural science and the applicatio of the knowledge for practical purpouse”  yang artinya adalah penelaahan dari ilmu alam dan penerapan dari pengetahuan ini untuk maksud praktis.[1]
Archin J. Bann dalam artikelnya yang berjudul “what is science” yang dikutip oleh Koento Wibisono (1997) megatakan, dari definisi ilmu disebutkan ada 6 komponen ilmu sebagai berikut :
1.) Masalah atau problem ilmiyah (scientific problem)
2.) Sikap ilmiah (Scientific attitude)
3.) Metode ilmiyah ( scientific method)
4.) Aktivitas ilmiyah (scientific activity)
5.) kesimpulan (conclusions)
6.) beberapa pengaruh (effects)
Pendapat The Liang Gie (1987), bahwa ditinjau dari berbagai definisi ilmu menurut para ahli, ia mengamukakan tiga pengertian ilmu, diuraikan sebagai berikut :
Pertama, ilmu dalam pengertian “pengetahuan” atau “produk”, ia merujuk pada pengertian ilmu menurut etimologi atau asal usul kata, istilah ilmu dari bahasa inggris Science yang berasal dari perkataan latin Scientia yang diturunkan dari perkataan sciere mengandung arti mengetahui (to know) dan juga belajar (to learn). Dengan demikian ilmu sebagai pengetahuan berarti bahwa ilmu suatu kumpulan sistematis dari pengatahuan (a scientific body of knowledge) yang sesungguhnya hanyalah produk.
Kedua, Ilmu dalam pengertian “aktivitas” atau “proses”, ini berarti ilmu sebagai aktivitas sesungguhnya merupakan sebuah proses yang bersifat manusiawi yang mengarah pada tujuan tertentu, karena para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiyah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ilmu itu beragam sesuai dengan yang diharapkan oleh para ilmuwan. Dalam garis besarnya dapat dikatakan bahwa tujuan ilmu sebagaimana ditentukan oleh para ilmuwan  merentang diantara dua kutub yaitu : “penerapan” dan “penjelasan”.
Tujuan “penerapan” dari ilmu berdasarkan pada pandangan filsuf inggris, Frrancis Bacon yang mengatakan bahwa “tujuan yang sah dan senyatanya dari ilmu berupa sumbangan terhadap kehidupan manusia dengan ciptaan-ciptaan dan kekayaan baru”. Dalam tujuan ilmu sebagai “penerapan”, ilmu mempunyai tujuan praktis yaitu bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia (human being).
Tujuan Ilmu berupa “penjelasan” dikemukakan oleh filsuf bernama Stephen Toulmin (1961) dikatakan bahwa “tujuan pokok ilmu adalah bertalian dengan pencapaian pemahaman, suatu keinginan untuk membuat peristiwa alam tidak hanya dapat diramalkan tetapi juga dapat dimengerti dan dipahami”. dalam konteks ini tujuan ilmu lebih bernuanasa teoritis yakni berupa penjelasan ilmiyah.
Ketiga, “Ilmu dalam pengertian sebagai Metode”, mengandung prosedur yani suatu rangkaian cara yang mewujudkan pola tetap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah disebut “metode penyelidikan” (method of inquiry) atau dinamakan juga “metode ilmiah” (scien-tific method).
Metode ilmiah mengandung unsur-unsur dan langkah-lngkah sebagai berikut: unsur-unsur yang mencakup pengamatan, percobaan, pelukisan, penggolongan, pengukuran, perumusan, penjelasan, peramalan, penilaian, pengendalian, perbandingan, deduksi, indukdsi. adalapun langkah-langkahnya mencakup: 1.) penentuan masalah, 2.) perumusan patokan duga, 3.) pengumpulan bahan (data), 4.) penurunan kesimpulan, 5. pengujian hasil.
pengertian ilmu kedalam tiga dimensi yaitu (1) sebagai pengetahuan atau produk, (2) sebagai aktivitas atau proses, (3)sebagai metode adalah merupakan “dimensi Trikotomi” yang menunjukkan nahwa ketiga pengertian ilmu itu saling berkaitan. The Liang Gie menggambarkan Trikotomi ilmu merupakan satu kesatuan yang berinteraksi dalam bentuk segitiga,
   ILMU
                                                   aktivitas
  



metode                        pengetahuan
Selain tiga pengertian atau “trikotomi ilmu”, The Liang Gie dalam bukunya yang berjudul “Konsepsi Tentang Ilmu” (1984), memperluas pengertian ilmu dari dimensi cabang ilmu, dimensi falsafati dan dimensi logis ilmu serta dimensi realitas. Adapun uraiannya sebagai berikut :
(1)   pengertian Ilmu menurut dimensi cabang ilmu yang bersangkutan, antara lain :
a. Ilmu ekonomi
b. Linguistik
c. Matematik
d. Ilmu politik
e. Psikologi
f. Sosiologi
(2)   pengertian ilmu dari dimensi falsafati dan dimensi logis ilmu, antara lain :
a. Dimensi Falsafati, ilmu dipandang sebagai, “pandangan dunia” atau “nilai manusiawi”
b. Dimensi logis ilmu penekanannya pada proposisi-proposisi atau pendekatan formal, memandang ilmu sebagai “sistem logika induktif yang sistematis”. Dirujuk pandangan Eistein dalam bukunya yang berjudul “the Meaning of Reality”, Ia menulis (tujuan segala ilmu, apakah ilmu alam atau psikologi, adalah mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman kita dan menjadikannya suatu sistem logis).
(3)    pengertian Ilmu dari dimensi “realitas” didunia diantara dimensi yang menonjol adalah :
a.) dimensi budaya, memandang ilmu sebagai kekuatan budaya, proses budaya dan model kebudayaan.
b.) dimensi sejarah, memandang ilmu sebagai kekuatan sejarah yang sangat penting dalam membangun eksistensi sosial ke arh yang baru.
c.) dimensi humanistik, memandang ilmu sebagai seluruh penghayatan manusia yang menjadi faktor pembentuk kepribadian manusia ilmiyah. 
d.) dimensi reaksi, memandang manusia sebagai suatu “permainan”.
e.) dimensi sistem memandang “ilmu sebagai kebulatan sistem” yang meliputi:
a.       suatu sistem perilaku sehingga manusia memperoleh penguasaan atas lingkungannya
b.      suatu sistem penjelasan dan
c.       suatu sistem kepercayaan yang mempunyai landasan kuat.[2]

1.      Pengertian Agama
Kata agama disini bukan dalam pengertian yang luas, seperti yang dipahami oleh sebagian pemikiran Eropa yang menggunakan istilah agama dalam pengertian “segala bentuk kepercayaan manusia, termasuk yang bersifat khurafat (tahayyul) dan banyak berkembang sejak zaman kuno dalam masyarakat primitif dan masyarakat berdab”. namun pengertin agama disini dibatai hanya pada agama-agama samawi yang diterima melalui wahyu yang turun dari langit dan dibawa oleh para rasul Allah.
Jika kita hendak mencari definisi agama yang sesuai dengan batasan diatas, dalam salah satu kamus bahasa arab disebutkan : “Agama adalah satu bentuk ketetapan ilahi yang mengarahkan mereka yang berakal dengan pilihan mereka sendiri terhadap ketetapan ilahi tersebut kepada kebaikan hidup dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat”.
Berdasarkan definisi tersebut ada beberapa kriteria yang kita dapati dalam senuah agama, yaitu :
a.       Agama adalah sebuah sistem yang datang dari langit (tuhan)
b.      Tujuan agama adalah mengarahkan dan membimbing akal manusia
c.       Dasar beragama adalah kebebasan pilihan
d.      Agama wahyu membawa kebaikan hidup didunia dan akhirat.
Pendefinisian agama tersebut tidak sempurna tanpa melihat pokok-pokok akidah keagamaan yang benar, yang dapat dirangkum sebagai berikut :
a.       Kepercayaan terhadap satu tuhan yang Maha Kuasa dan Bijaksana, terbebas dari kemiripan dengan makhluk, serta tak berawal ataupun berakhir dalam wujudNya.
b.      Kepercayaan terhadap wujud alam lain, dimana didalamnya terdapat makhluk-makhluk dari jenis lain, seperti malaikat jin.
c.       Kepercayaan terhadap pengutusan para rasul Tuhan untuk mengajarkan manusia bagaimana cara menjalani hidup.
d.      Kepercayaan terhadap adanya kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini, dimana kita akan dimintai perhitungan dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan kita. Jika baik dibalas baik, jika buruk dibalas buruk.
keempat dasar diatas merupakan dasar dari semua agama samawi.[3]
   
2.      Struktur Ilmu
Didalam bukunya yang berjudul “Ilmu Dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Tentang Hakekat Ilmu”, Jujun S Suriasmantri memberikan arti “strukttur ilmu” merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen yang berhubungan satu sama lain. komponen-komponen tersebut diantaranya:
1.      Perumusan masalah, cara yang bsa dilakukan dalam menemukan dan merumuskan maslah adalah melewati persepsi kita dalam menghadapi kesulitan.
2.      Pengamatan dan deskripsi, barkaitan dengan klasifikasi, penamaan dan penataan sifat-sifat tertentu dari objek riset.
3.      Penjelasan, intinya berupa jawaban atas pertanyaan penelitian (question research). Penjelasan tersebut bisa berupa :
a.       penjelasan deduktif, menjawab pertanyaan dengan malakukan abstraksi dari karakteristik tertentu dan secara jelas merumuskan hubungan antara karakteristik-karakteristik tersebut.
b.      penjelasan probabilistik yakni penjelasan dalam ilmu berupa jawaban yang tidak dijawab secara pasti, tetapi dapat dijawab dengan kata-kata seperti: “mungkin”, “mungkin pasti” atau dalam batas 50%.
c.       penjelasan genetis, yakni suatu penjelasan dengan menjawab pertanyaan atas apa yang telah terjadi sebelumnya.
d.      penjelasan fungsional, yakni penjelasan dengan jawaban lewat jalanmenyelidiki tempat dari obyek yang sedang diteliti dalam keseluruhan sistem dimana objek itu berada.
4.      Ramalan dan kontrol, terkait dengan keragaman ilmu menyebabkan berbagai cara dalam mengemukakan ramalan dan kontrol dalam menentukan validitas hipotesis yang diajukan.
Dengan versi lain The Liang Gei (1984) mengidentifikasi “struktur ilmu” yang merupakan keterkaitan antar komponen mencakup :
1.      Obyek yang sebenarnya yang meliputi :
a.       obyek material
b.      obyek formal
2.      Bentuk pertanyaan yang mencakup :
a.       deskripsi
b.      preskripsi
c.       rekonstruksi historis
3.      Ragam proposisi, terjadi pada cabang-cabang ilmu yang lebih “dewasa” baik obyek forml maupun metode ilmiyahnya, terdapat tiga proposisi yaitu
a.       asas ilmiyah
b.      kaidah ilmiyah atau hukum ilmiyah
c.       teori ilmiyah
4.      Ciri pokok ilmu, mencakup enam ciri esensial, yaitu :
a.       sistematis pada pengetahuan yang bersangkutan.
b.      keumuman menunjuk pada kualitas pengetahuan ilmiyah untuk merangkum fenomena dengan konsep-konsep umum dan membahas obyek kajiannya.
c.       rasionalitas
d.      obyektivitas
e.       verifibilitas yaitu pengetahuan ilmiyah harus dapat diuji ulang kebenarannya.
f.       komunitas, bahwa dalam perkembangan litratur mengungkapkan pengetahuan ilmiyah itu menjadi milik publik atau masyarakat umum.
5.      sistematika ilmu yang diuraikan dalam bentuk penggolongan atau kualfikasi ilmu.[4]
   Struktur Ilmu (Pengetahuan Ilmiyah)
a.
Objek sebenarnya
1.      objek material
d.      ide abstrak
e.       benda fisik
f.       jasad hidup
g.      gejala rohani
h.      peristiwa sosial
i.        proses tanda
2.      objek formal
j.        pusat perhatian
b.
Bentuk pernyataan
1.      deskripsi
2.      preskripsi
3.      eksposisi pola
4.      rekonstruksi historis

c.
Ragam proposisi
1.      asas ilmiyah
2.      kaidah ilmiah
3.      teori ilmiah

d.
Ciri pokok ilmu
1.      sistematis
2.      keumuman
3.      rasionalitas
4.      obyektivitas
5.      veriviabilitas
6.      komunalitas


3.      Kualifikasi Ilmu
Beberapa pandangan klasifikasi ilmu berdasarkan kriteria masing-masing, diuraikan sebagai berikut :
Wilhem Dilthey mengajuakan kualifikasi ilmu berdasarkan objek dan metodenya membagi menjadi dua kelompok yaitu :
1.      The sience of world (ilmu-ilmu alamiah) obyeknya “alam fisik” dan metodenya “erklaren” (menjelaskan)
2.      science of Geist (ilmu-ilmu kerohanian) obyeknya manusia, dan metodenya “verstehen” (pengertian).
Wilson Gie, membagi ilmu berdasarkan kelas yang istilahnya saling berlawanan atau dikotomis, ia membdakan cabang-cabang ilmu :
1.      Ilmu-ilmu eksakta
2.      Ilmu-ilmu non-eksakta
Augus Comte, klasifikasinya berdasarkan hirarki, asa ketergantungan dan ukuran. Ia membai ilmu-ilmu fundamental yaitu :
1.      Matematika
2.      Astronomi
3.      Fisika
4.      Kimia
5.      Biologi
6.      Sosiologi
Peter Kalder juga mendasarkan klasifikasi hirarki (urut jenjang) ilmu dengan menentukan arah penelitian, ia membagi ilmu sebagai berikut :
1.      Ilmu murni/ilmu akademis, orientasi penelitiannya untuk mengembangkan ilmu-ilmu sendiri.
2.      Ilmu dasar terapan, orientasi penelitiannya dengan suatu kerangka acuan
3.      Ilmu terapan atau ilmu terprogram, orientasi penelitiannya dengan tujuan praktis atau manipulatif
4.      teknologi, merupakan transfer pengetahuan ilmiah terhadap pelaksanaan bidang-bidang yang bersifat teknis.
The Liang Gie (1987) melakukan klasifikasi atas jenis dan ragam ilmu. adapun pembagiannya sebagai berikut :
1.      pembagian ilmu yang dianut secara luas oleh univertas-universitas di Amerika serikat :
a.       Ilmu-ilmu alam
b.      Ilmu-ilmu SosialIlmu-ilmu Humaniora
2.      Pembagian ilmu dalam UU No.22 Tahun 1961 tentang Pendidikan Tinggi dan Ilmu pengetahuan mencakup :
a.       Ilmu Agama/kerohanian
b.      Ilmu kebudayaan
c.       Ilmu Sosial
d.      Ilmu Eksakta dan Teknik
kini secara formal Pasal 20 ayat (2) UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menetapkan rumpun ilmu, meliputi :
a.       Ilmu Agama
b.      Ilmu Budaya
c.       Ilmu-ilmu Alam
d.      Ilmu-ilmu sosial
e.       Ilmu Humaniora
f.       Ilmu Teknik dan Terapan
Klasifikasi Ilmu berdasarkan ragamnya sama dengan pembagian ilmu secara dikotomi atau Dwi pembagian, antara lain :
1.      Dwi pembagian yang terkenal sejak zaman kuno
a.       Ilmu Teoritis, bertujuan untuk memperoleh atau mengubah pengetahuan.
b.      Ilmu Praktis, bertujuan untuk mengubah dalam arti memperbaiki keadaan.
2.      Dwi pembagian yang terkenal
a.       pure science (Ilmu Murni),dalam aplikasinya mengusung adagium (ungkapan ilmiah) “science for science” (ilmu hanya untuk ilmu).
b.      Applaid science (ilmu terapan), dalam praktik implementasinya mengusung adagium “science for human being” (ilmu hanya untuk kemaslahatan ummat manusia).
Dalam karya desertasinya B. Arief Sidharta dia membuat klasifikasi dengan membagi ilmu menjadi dua kelompok yaitu :
1.      kelompok ilmu teoritis yang kemudian dibagi menjadi dua sub yaitu : “ilmu formal” dan “Ilmu Empiris”
2.      Ilmu praktis, yaitu ilmu yang mempelajari aktivitas penerapan itu sendiri sebagai obyeknya. Yang termasuk didalam ilmu praktis adalah : Etika, Teologi, Ilmu Teknik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Manajemen dan Ilmu Komunikasi. Kelompok Ilmu Praktis dibagi kedalam dua jenis yaitu “Ilmu praktis Nomologids” dan “Ilmu Praktis Normologis”.[5]






[1] Suhartono Taat Putra, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015), Hlm. 48-49.
[2] I Dewa Gede, dkk, Filsfat Ilmu, (Malang: Madani, 2014), Hlm. 57-67.
[3] Fu’ad Farid Ismail, dkk, Cara Mudah Belajar Filsafat, (Yogyakarta: Diva Press, 2012), Hlm.27-29.
[4] I Dewa Gede, dkk, Filsfat Ilmu, (Malang: Madani, 2014), Hlm.70-78.
[5] I Dewa Gede, dkk, Filsfat Ilmu, (Malang: Madani, 2014), Hlm 80-85.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar